Kecepatan Internet – Tahun 2025 ditutup dengan catatan yang kurang menggembirakan bagi lanskap digital Indonesia. Laporan terbaru mengenai performa internet global menyoroti penurunan kecepatan internet di tanah air, baik untuk layanan seluler maupun sambungan rumah. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius tentang daya saing digital Indonesia di kancah regional maupun internasional.
Data yang dianalisis oleh berbagai lembaga pemantau kecepatan internet menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Alih-alih mengalami peningkatan yang signifikan, kecepatan rata-rata justru memperlihatkan perlambatan, menempatkan Indonesia pada posisi yang tertinggal dari banyak negara tetangga. Fenomena ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari tantangan fundamental dalam upaya mewujudkan ekosistem digital yang tangguh.
Tantangan Konektivitas Mobile di Asia Tenggara
Sektor internet seluler, yang menjadi tulang punggung aktivitas daring mayoritas penduduk Indonesia, menghadapi kemunduran signifikan. Pada akhir tahun 2025, performa internet mobile Indonesia dilaporkan turun dua peringkat secara global. Posisi ini menempatkan Indonesia di urutan ke-75 dari total 105 negara yang disurvei.
Gambaran lebih jelas terlihat ketika membandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Di wilayah yang sangat dinamis ini, Indonesia hanya mampu mengungguli satu negara, yaitu Laos. Ini menjadi indikator yang jelas bahwa upaya peningkatan infrastruktur dan layanan internet seluler masih jauh dari harapan.
Potret Kecepatan Internet Mobile di Asia Tenggara (Desember 2025)
Kondisi ini semakin nyata saat melihat data perbandingan kecepatan rata-rata di berbagai negara tetangga. Sejumlah negara di Asia Tenggara telah berhasil mencapai kecepatan yang impresif, bahkan masuk dalam jajaran teratas dunia.
Sebagai contoh, Brunei Darussalam memimpin dengan kecepatan rata-rata 234,96 Mbps, menempatkannya di peringkat 8 global. Singapura tidak kalah jauh, dengan 199,70 Mbps dan berada di peringkat 10. Angka-angka ini menunjukkan kesenjangan yang sangat besar dengan kondisi di Indonesia.
Negara lain seperti Vietnam (179,24 Mbps, peringkat 13), Malaysia (143,70 Mbps, peringkat 29), dan Thailand (136,23 Mbps, peringkat 33) juga jauh melampaui Indonesia. Bahkan negara seperti Kamboja (60,27 Mbps, peringkat 67) dan Filipina (54,13 Mbps) menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan Indonesia.
Perbedaan kecepatan yang mencolok ini tentu berdampak pada pengalaman pengguna sehari-hari. Mulai dari kegiatan belajar daring, bekerja jarak jauh, hingga hiburan seperti streaming video atau bermain game, semuanya membutuhkan koneksi yang stabil dan cepat. Keterbatasan kecepatan internet mobile dapat menghambat produktivitas dan akses terhadap informasi.
Performa Fixed Broadband yang Stagnan
Tidak hanya internet seluler, kecepatan layanan fixed broadband atau sambungan internet rumah juga menghadapi tantangan serupa. Meskipun sektor ini diharapkan menjadi pendorong utama transformasi digital, perkembangannya masih jauh dari ideal. Indonesia berada di peringkat ke-129 secara global untuk fixed broadband, menunjukkan perlambatan yang serius dalam adopsi dan kualitas layanannya.
Performa ini semakin tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Ironisnya, Indonesia menempati posisi terendah di kawasan ini, di bawah semua negara tetangga yang lain. Kondisi ini mencerminkan masalah struktural yang lebih dalam dalam pengembangan infrastruktur kabel dan serat optik.
Peringkat Internet Fixed Broadband Asia Tenggara (Desember 2025)
Melihat data perbandingan fixed broadband di Asia Tenggara, terlihat jelas posisi Indonesia yang paling bawah. Singapura, dengan infrastruktur yang sangat maju, memimpin dengan kecepatan rata-rata mencapai 278,92 Mbps dan menempati peringkat ke-2 dunia. Thailand juga menunjukkan performa luar biasa dengan 223,60 Mbps di peringkat 10 global.
Negara lain seperti Malaysia (102,15 Mbps, peringkat 41), Vietnam (93,27 Mbps, peringkat 45), dan Filipina (92,20 Mbps, peringkat 46) juga menunjukkan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Bahkan Brunei Darussalam (73,63 Mbps, peringkat 61) dan Kamboja (45,86 Mbps, peringkat 87) masih di atas Indonesia.
Keterbatasan kecepatan fixed broadband berdampak langsung pada sektor pendidikan, bisnis, dan bahkan sektor pemerintahan. Banyak perusahaan membutuhkan koneksi yang handal untuk operasional sehari-hari, sementara sekolah dan universitas mengandalkan internet untuk mendukung proses belajar mengajar. Lambatnya fixed broadband dapat menghambat inovasi dan pertumbuhan ekonomi digital.
Faktor Penyebab Penurunan Kinerja
Ada beberapa faktor kompleks yang diduga berkontribusi pada stagnasi, bahkan penurunan, kecepatan internet di Indonesia. Pertama, masalah infrastruktur yang belum merata dan optimal. Geografi Indonesia yang berupa kepulauan besar menuntut investasi besar dalam pembangunan jaringan, khususnya serat optik dan menara BTS di daerah terpencil.
Kedua, adalah manajemen spektrum frekuensi yang belum sepenuhnya efisien. Ketersediaan spektrum yang terbatas atau penggunaannya yang belum optimal dapat membatasi kapasitas jaringan operator seluler. Akibatnya, meskipun ada peningkatan jumlah pengguna, kapasitas yang tersedia tidak dapat mengimbanginya.
Ketiga, tingginya permintaan dari populasi pengguna internet yang terus bertambah. Dengan penetrasi internet yang semakin meluas, beban pada jaringan meningkat secara eksponensial. Jika tidak diiringi dengan peningkatan kapasitas dan teknologi yang memadai, penurunan kecepatan adalah keniscayaan.
Selain itu, regulasi dan kebijakan yang mungkin belum sepenuhnya mendukung percepatan pembangunan infrastruktur juga dapat menjadi penghambat. Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta perlu diperkuat untuk mengatasi berbagai kendala, mulai dari perizinan hingga insentif investasi. Biaya penyediaan layanan internet yang relatif tinggi juga bisa menjadi faktor.
Dampak terhadap Ekonomi dan Masyarakat Digital
Kinerja internet yang lesu ini memiliki implikasi serius terhadap berbagai aspek kehidupan. Dari sudut pandang ekonomi, kecepatan internet yang rendah dapat menghambat pertumbuhan ekonomi digital. Sektor-sektor seperti e-commerce, startup teknologi, dan UMKM yang mengandalkan platform daring akan kesulitan bersaing jika akses internet mereka terbatas.
Bagi masyarakat, khususnya di daerah yang belum terjangkau atau memiliki koneksi yang buruk, kesenjangan digital semakin melebar. Akses terhadap pendidikan daring, layanan kesehatan digital, serta informasi penting lainnya menjadi terhambat. Ini berpotong dengan cita-cita inklusi digital yang menjadi prioritas banyak negara.
Di tingkat global, posisi Indonesia yang tertinggal dalam kecepatan internet dapat mempengaruhi daya tarik investasi. Investor cenderung mencari negara dengan infrastruktur digital yang kuat untuk mendukung operasional bisnis mereka. Oleh karena itu, peningkatan kecepatan internet bukan hanya masalah kenyamanan, tetapi juga strategis bagi posisi Indonesia di mata dunia.
Langkah ke Depan: Mendorong Percepatan Digital
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya kolektif dan strategis dari berbagai pihak. Pemerintah perlu terus mendorong investasi dalam infrastruktur telekomunikasi, termasuk ekspansi jaringan serat optik hingga ke pelosok dan pemerataan akses 4G, bahkan 5G. Pengelolaan spektrum frekuensi yang lebih efisien juga krusial untuk menambah kapasitas operator.
Inovasi teknologi, seperti pemanfaatan satelit internet untuk daerah terpencil, dapat menjadi solusi pelengkap. Kolaborasi erat antara pemerintah, operator telekomunikasi, penyedia teknologi, dan masyarakat sipil akan menjadi kunci keberhasilan. Kebijakan yang mendukung kemudahan investasi dan kompetisi sehat juga sangat dibutuhkan.
Edukasi digital bagi masyarakat juga penting untuk memastikan pemanfaatan internet yang optimal dan aman. Dengan peningkatan literasi digital, masyarakat akan lebih siap untuk beradaptasi dengan teknologi baru dan memaksimalkan potensi yang ditawarkan oleh konektivitas yang lebih baik.
Menuju Masa Depan Konektivitas yang Lebih Baik
Laporan kecepatan internet di akhir tahun 2025 menjadi pengingat yang penting bagi Indonesia. Meskipun tantangannya besar, potensi untuk meningkatkan kualitas konektivitas digital juga sangat besar. Dengan komitmen yang kuat dan implementasi strategi yang tepat, Indonesia dapat membalikkan tren ini dan bergerak menuju masa depan di mana akses internet cepat dan merata menjadi kenyataan bagi seluruh penduduk.
Peningkatan kecepatan internet bukan sekadar angka-angka di atas kertas, melainkan fondasi untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif, ekonomi yang lebih kompetitif, dan negara yang lebih maju di era digital. Momen ini adalah kesempatan untuk mengevaluasi, berbenah, dan mempercepat langkah demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang ditopang oleh infrastruktur digital kelas dunia.
