Gedung DPR RI – Setiap kali melewati kawasan Senayan, Jakarta, mata kita pasti akan tertuju pada sebuah bangunan ikonik dengan atap kubah setengah lingkaran dan sayap yang membentang. Bangunan itu tak lain adalah kompleks parlemen, tempat berkantornya para wakil rakyat di gedung DPR RI, MPR, dan DPD.
Lebih dari sekadar kantor, bangunan ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting dalam sejarah bangsa. Mulai dari pidato kenegaraan, perdebatan sengit tentang undang-undang, hingga aksi unjuk rasa yang menyuarakan aspirasi rakyat. Namun, di balik kemegahan dan simbolismenya, ada sosok arsitek jenius yang karyanya berdiri kokoh, meski namanya jarang terekspos.
Dia adalah Soejoedi Wirjoatmodjo, putra bangsa yang merancang mahakarya ini. Desainnya yang unik, menyerupai kepakan sayap burung yang siap terbang, ternyata menyimpan makna filosofis yang mendalam. Sebuah representasi dari semangat bangsa yang selalu bergerak maju dan dinamis.
Genesis: Awal Mula Ide Soekarno
Kisah pembangunan gedung DPR berawal dari gagasan Presiden Soekarno pada tahun 1965. Saat itu, beliau berencana menyelenggarakan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO), sebuah konferensi tandingan PBB yang melibatkan negara-negara berkembang. Untuk mewadahi pertemuan akbar tersebut, Soekarno membutuhkan sebuah gedung megah yang bisa merepresentasikan kekuatan baru.
Soejoedi yang saat itu baru kembali dari Jerman langsung ditunjuk oleh Presiden Soekarno untuk merancang gedung tersebut. Dilansir dari laman resmi MPR RI, perancangan gedung berjalan sangat cepat. Hanya dalam kurun waktu satu bulan, tepatnya pada 22 Februari 1965, desain arsitektur buatan Soejoedi sudah ditetapkan dan disahkan.
Sayangnya, proses pembangunan tak berjalan mulus. Setelah peletakan batu pertama pada 8 Maret 1965, insiden G30S PKI meletus dan memaksa proyek ini dihentikan sementara. Baru pada 9 November 1966, pembangunan kembali dilanjutkan dengan fungsi yang berbeda, yaitu sebagai kompleks Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
BACA JUGA: Awas Hoaks! Ini Fakta Sebenarnya di Balik Isu Besar 25 Agustus Demo
Kompleks Parlemen yang Multifungsi
Meskipun lebih dikenal sebagai gedung DPR, kompleks ini sebenarnya terdiri dari berbagai bangunan. Di antaranya Gedung Nusantara, Gedung Nusantara I hingga V, Gedung Bharana Graha, Gedung Sekretariat Jenderal, Gedung Mekanik, dan Masjid Baiturrahman. Setiap bangunan memiliki fungsi spesifik yang menunjang operasional lembaga legislatif di Indonesia.
Misalnya, Gedung Nusantara yang ikonik berfungsi sebagai ruang sidang paripurna, tempat para anggota dewan berkumpul untuk mengambil keputusan penting. Sementara itu, Gedung Nusantara I menampung ruang kerja anggota dewan dan berbagai fraksi.
Kompleks ini juga sering menjadi arena berbagai kegiatan publik. Mulai dari pameran, seminar, hingga menjadi titik pusat bagi masyarakat yang ingin menyuarakan pendapatnya melalui demonstrasi. Keberadaannya yang strategis menjadikan kompleks parlemen sebagai salah satu simpul penting dalam dinamika politik dan sosial di Indonesia.
Mengulik Jejak Sang Arsitek: Soejoedi Wirjoatmodjo
Lahir pada tahun 1928, Soejoedi Wirjoatmodjo memulai pendidikan arsitekturnya di Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Bandung (sekarang ITB). Kecerdasan Soejoedi membuatnya berhasil memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
Setelah sempat merasa tidak cocok belajar di Paris, ia memutuskan pindah ke Delft, Belanda. Namun, situasi politik yang tidak kondusif di Indonesia mendorongnya untuk kembali pindah ke Jerman. Di sinilah ia menuntaskan pendidikannya di Technische Universitat, Berlin Barat. Setelah dua tahun, Soejoedi berhasil meraih gelar Dipl.Ing. dengan predikat cum laude.
Soejoedi dikenal sebagai sosok yang gigih dan inovatif. Ia adalah pelopor yang memperkenalkan arsitektur modern di Indonesia melalui karya-karyanya. Tak hanya itu, Soejoedi juga memiliki peran besar dalam dunia pendidikan. Ia adalah inisiator pembukaan sekolah-sekolah arsitektur baru di berbagai universitas ternama di Indonesia, termasuk Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Warisan Arsitektur yang Abadi
Karya Soejoedi tak hanya berhenti pada desain gedung DPR yang fenomenal. Ia juga merancang berbagai bangunan monumental lain yang masih kokoh berdiri hingga kini. Sebut saja Gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta, Gedung Kedutaan Besar Prancis, hingga sejumlah Kedutaan Besar Indonesia di luar negeri, seperti di Kuala Lumpur, Seoul, dan Beograd.
Seluruh karyanya tidak hanya menampilkan keindahan estetika, tetapi juga fungsionalitas yang menjawab kebutuhan zaman. Dedikasi dan kontribusinya menjadikan Soejoedi sebagai salah satu arsitek paling berpengaruh di Indonesia.
Sayangnya, Soejoedi mengembuskan napas terakhirnya pada 17 Juni 1981, di usia yang masih terbilang muda, 53 tahun. Meskipun begitu, warisan arsitekturnya akan terus dikenang sebagai bagian tak terpisahkan dari lanskap perkotaan dan sejarah bangsa. Melalui karya-karyanya, nama Soejoedi Wirjoatmodjo akan terus hidup, menginspirasi generasi arsitek mendatang.
Profil Soejoedi Wirjoatmodjo | |
---|---|
Nama Lengkap | Soejoedi Wirjoatmodjo |
Tanggal Lahir | 27 Desember 1928 |
Tempat Lahir | Surakarta, Jawa Tengah, Hindia Belanda |
Tanggal Wafat | 9 Mei 1981 |
Profesi | Arsitek, Akademisi |
Pendidikan | – Technische Hogeschool, Bandung – Technische Universiteit Delft, Belanda |
Karya Terkenal | – Gedung DPR/MPR RI, Jakarta – Gedung Arsip Nasional RI, Jakarta – Beberapa bangunan kampus Universitas Indonesia |
Gaya Arsitektur | Modernisme dengan sentuhan lokal Indonesia |
Pengaruh | Menjadi pelopor arsitektur modern di Indonesia pasca kemerdekaan |