Gedung DPR Dibakar – Jakarta kembali dirundung malam yang tegang. Jalanan di sekitar Gedung DPR/MPR RI mendadak menjadi lautan asap, teriakan, dan kobaran api. Aksi massa yang sejak sore berlangsung ricuh kian memanas setelah pagar pengaman gedung berhasil dijebol.
Bukan hanya pagar, amarah yang memuncak juga berujung pada pembakaran fasilitas umum. Gerbang Tol Pejompongan arah Cawang yang berada tidak jauh dari kompleks DPR dilalap si jago merah. Api menjilat-jilat tiang besi, sementara asap hitam pekat membubung di langit ibu kota.
Polisi dengan tameng lengkap dan mobil taktis bersiaga. Suara letupan petasan bersahutan dengan dentuman gas air mata. Malam itu, Jakarta seakan berubah menjadi panggung benturan yang tak pernah direncanakan.
Detik-Detik Pagar DPR Jebol
Sekitar pukul 20.37 WIB, barisan massa yang berkumpul di depan Gedung DPR RI terlihat mulai mendorong pagar. Bukan sekadar dorongan tangan kosong, mereka menggunakan alat berat—gerinda besi—untuk merobohkan penghalang.
Sesaat kemudian, pagar ambruk. Sorak-sorai massa menggema. Mereka berusaha merangsek masuk. Namun, pasukan TNI yang sudah berjaga berhasil menghadang.
Bentrok tak terelakkan. Polisi melancarkan water cannon, lalu disusul gas air mata. Massa membalas dengan bom molotov dan petasan. Suasana berubah mencekam, cahaya oranye api memantul di wajah-wajah yang penuh amarah.
“Silakan rekan-rekan mundur. Sampaikan aspirasi dari luar pagar,” ujar salah seorang polisi melalui pengeras suara. Namun imbauan itu nyaris tenggelam dalam riuhnya letupan.
Gedung DPR Dibakar Jadi Simbol Amarah
Meski pagar berhasil dijebol, massa tak sepenuhnya masuk ke gedung. Sebagian memilih melampiaskan amarah dengan membakar benda-benda di sekitar lokasi. Ban bekas, kayu, hingga sampah plastik diseret ke tengah jalan, lalu disiram bensin dan disulut api.
Yang paling mengejutkan, gerbang Tol Pejompongan arah Cawang menjadi sasaran. Api menjalar cepat, membuat arus lalu lintas terhenti total. Pihak pengelola tol memastikan bahwa jalur tersebut ditutup sementara demi keselamatan pengguna jalan.
Kebakaran ini bukan sekadar kerusakan fisik. Bagi massa, kobaran api adalah simbol protes. Bagi warga sekitar, asap hitam adalah penanda bahaya yang nyata.
Hujan Deras Tak Sepenuhnya Padamkan Aksi
Sekitar pukul 18.00 WIB, hujan deras sempat mengguyur kawasan Senayan. Sebagian massa berlarian mencari tempat berteduh, namun tidak sedikit yang tetap bertahan.
Hujan memang menekan intensitas ricuh sejenak, tetapi begitu reda, massa kembali menyemut di depan Gedung DPR. Malam itu, air hujan seolah tak mampu meredam api amarah yang sudah telanjur menyala.
BACA JUGA: Ribuan Buruh Gelar Demo 28 Agustus 2025, Istana dan DPR Jadi Pusat Aksi
Tragedi yang Memicu
Kerusuhan ini bukan tanpa sebab. Demonstrasi digelar sebagai bentuk protes atas tewasnya seorang pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan. Ia meninggal setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob pada Kamis malam, 28 Agustus 2025.
Peristiwa itu terjadi di depan Rusun Benhil II, Jakarta Pusat. Affan yang hendak menyeberang terpeleset di tengah kerumunan. Dalam hitungan detik, mobil rantis melaju kencang dan menabraknya.
Sontak, massa yang menyaksikan langsung mengerubungi kendaraan tersebut. Namun sopir mobil rantis justru tancap gas, meninggalkan korban yang terkapar. Kejadian ini cepat menyebar lewat media sosial, memicu gelombang kemarahan yang akhirnya meledak di depan Gedung DPR.
Aparat Diperiksa
Polda Metro Jaya bertindak cepat. Sebanyak tujuh anggota Brimob diperiksa di Mako Brimob Kwitang terkait insiden ini. Mobil rantis yang menabrak korban pun diamankan.
Nama-nama aparat yang diperiksa turut dipublikasikan: Aipda M. Rohyani, Briptu Danang, Briptu Mardin, Baraka Jana Edi, Baraka Yohanes David, Bripka Rohmat, dan Kompol Cosmas K Gae.
“Proses pemeriksaan masih berlangsung untuk memastikan kronologi serta siapa yang bertanggung jawab,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko.
Suara dari Lembaga Resmi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bahwa aksi pembakaran fasilitas publik dapat menimbulkan risiko lebih besar, terutama bila terjadi dekat infrastruktur vital.
“Api di ruang terbuka berpotensi meluas tidak terkendali, apalagi bila ada bahan mudah terbakar. Selain mengancam keselamatan warga, asap pekat juga membahayakan kesehatan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Abdul Muhari, saat dimintai keterangan.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan memastikan koordinasi dengan pengelola tol untuk menutup sementara akses Pejompongan arah Cawang hingga kondisi dinyatakan aman.
Luka Kolektif Ibu Kota
Kericuhan di sekitar gedung DPR bukan sekadar soal pagar yang jebol atau gerbang tol yang dibakar. Lebih dalam, ini adalah luka kolektif. Luka akibat tragedi yang menewaskan seorang warga sipil. Luka karena rasa tidak adil yang mengendap di dada ribuan orang.
Gedung DPR dibakar bukan karena fisiknya semata, melainkan sebagai metafora dari kepercayaan yang ikut hangus terbakar.
Malam itu, Jakarta menyimpan jejak luka yang akan dikenang lama. Jalanan penuh serpihan kaca, sisa ban terbakar, dan bau mesiu yang tak lekas hilang.
Menanti Jalan Damai
Kini publik menanti langkah pemerintah dan aparat. Transparansi investigasi menjadi tuntutan utama. Kematian Affan Kurniawan harus dijelaskan secara terang benderang.
Para pengamat politik menilai, eskalasi unjuk rasa ini bisa berlanjut jika aspirasi masyarakat tidak segera ditanggapi.
“Ketika ada korban jiwa, tanggung jawab negara adalah memberi penjelasan sejelas-jelasnya. Jika tidak, ketidakpercayaan publik akan makin besar,” kata pengamat politik Universitas Indonesia, Aditya Perdana.
Penutup
Kerusuhan yang melanda depan Gedung DPR meninggalkan banyak pertanyaan. Apa yang bisa mencegah amarah serupa di masa depan? Bagaimana memastikan tragedi tak terulang?
Malam itu, Jakarta melihat pagar dijebol, gedung DPR dibakar sebagai simbol, dan gerbang tol berubah jadi bara. Tapi lebih dari itu, kota ini menyaksikan bagaimana sebuah nyawa yang hilang bisa mengguncang fondasi kepercayaan rakyat terhadap negara.